Senin, 14 September 2009

Fase Balita

Si kecil tumbuh begitu cepat. Untuk memantau perkembangannya, Anda perlu mengetahui tahapan kecerdasan yang harus dicapai bayi tiap bulannya.

Perkembangan kecerdasan bayi mencakup kemampuan perseptual, motorik, kognitif dan keterampilan sosial. Bila tahapan perkembangannya ada yang tidak tercapai, berarti perlu ada yang harus diwaspadai. Inilah standar yang sudah dibakukan berdasarkan penelitian statistik terhadap mayoritas bayi normal. Bila terdapat keterlambatan perkembangan yang tidak terlalu ekstrem, Anda tidak perlu cemas, karena perkembangan setiap bayi memang berbeda-beda. Namun, jika bunda merasa perkembangan buah hati terlalu lambat, saatnya berkonsultasi dengan dokter anak yang menangani tumbuh-kembang balita.

Tahapan perkembangan

0-1 bulan
Tahapan Perkembangan
Menunjukkan perilaku pemicu kasih sayang, menangis, meringkuk, mendekut, Mengangkat kepala, Tangan terkepal erat, Menangis, mendengkur, tersenyum, menangis di saat tidur, penglihatan masih buram , Tidur, bangun, makan, secara tidak menentu, Tingkah lakunya lebih sering dilakukan secara refleks
Yang Disukai Bayi
Sentuhan kulit dengan kulit, digendong dengan tangan atau gendongan, makan tanpa dijadwal, mengadakan kontak mata, dan mendengar suara bunda

2 bulan
Tahap Perkembangan
Terhubung secara visual dengan bunda
Lengan dan kaki relaks, kepala diangkat setinggi 45 derajat, kepala masih terhuyung bila digendong dalam keadaan duduk
Sebagian jari mulai membuka, mulai dapat menggenggam giring-giring
Ia bisa menjerit, membuat suara seperti sedang minum, dada berbunyi
Tersenyum dengan responsif, bisa membaca suasana hati orangtua, sibuk dengan ibu jarinya, mengadakan kontak mata, memerhatikan orang yang bergerak, menangis bila diturunkan dari gendongan
Mulai senang berkomunikasi, protes bila kebutuhannya tidak terpenuhi, memberi isyarat.
Membuat asosiasi bahwa tangisan berarti digendong atau disusui
Hal Yang Disukai Bayi
Digendong dalam kain gendongan, melihat ke arah yang bergerak, suka musik klasik, berbaring di dada ayah

3 bulan
Tahap Perkembangan
Memainkan tangan
Lengan dan kaki digerakkan secara sempurna, dapat membuat gerakan bebas dan memutar
Kepala diangkat lebih tinggi dari punggung, kepala bisa diangkat tegak saat digendong
Berguling
Sudah bisa menggoyangkan giring-giring, bisa mengisap ibu jari
Membuat suara lebih keras, mulai tertawa
Bisa menyebabkan orang bereaksi dengan senyum, tangisan, dan bahasa tubuh
Yang Disukai Bayi
Bersandar di dada bunda, bermain dengan tangannya sendiri, menunjuk ke sesuatu yang bergerak
4 bulan
Tahap Perkembangan
Bisa mengamati dengan akurat, sudah bisa mengangkat lengan ketika ingin digendong, tertawa geli bila digelitik
Bisa memeluk dengan dua tangan, menggenggam, memegang dada bunda
Mengangkat dada dan perut atas saat tengkurap
Tahu bahwa orang dan benda memiliki nama (contohnya kucing)
Yang Disukai Bayi
Menyapa si pengasuh dan mengajaknya bermain, memainkan jemari, bermain dengan mainan bayi, menggelindingkan bola, posisi menghadap ke depan bila digendong

5 bulan
Tahap Perkembangan
Meraih sesuatu dengan satu tangan
Berguling ke belakang, bisa melakukan posisi push-up, bisa mengjangkau jari kaki, mainan dapat dipindahkan dari tangan yang satu ke tangan lainnya dan ke mulut
Menengok ke arah orang yang berbicara, berusaha meniru suara-suara, tertarik pada warna, menggunakan tangan untuk mendorong bila ia sedang tidak mau diganggu
Yang Disukai Bayi
Mendorong dengan menggunakan kaki, memencet hidung bunda, menarik rambut, meraba dan menyembunyikan mainannya, duduk di kursi bayi dan bermain di pangkuan, bermain cilukba


6 bulan
Tahap Perkembangan
Duduk sendiri, berguling-guling, berdiri dengan berpegangan
Menunjuk mainan, sudah bisa menjumput
Senang akan suaranya: berteriak, tertawa, menggeram, serta meniru sikap wajah dengan lebih baik
Lebih lama bermain
Yang Disukai Bayi
Bermain dengan balok-balok, membanting mainan, diayun-ayun, bila digendong posisinya berubah menjadi di pinggang

6-9 bulan
Tahap Perkembangan
Merangkak, duduk tegak, mendorong badan ke atas sampai berdiri, menjumput denganibu jari dan telunjuk, makan sendiri (berantakan), menjatuhkan mainan
Terus merespon bila namanya disebut
Yang Disukai Bayi
Bergoyang seirama musik, bermain cilukba, memainkan makanan, permainan yang menggunakan kata-kata dan irama, menggelindingkan bola, tertarik pada objek kecil

9-12 bulan
Tahap Perkembangan
Sering merangkak, dari duduk bisa menjadi merangkak sendiri, berkeliling di sekitar perabotan, berdiri tanpa berpegangan, langkah pertama masih kaku, belum tegap
Menggenggam erat, menunjuk dan mencongkel dengan jari telunjuk, menumpuk dan menjatuhkan balok-balok, menunjukkan dominasi tangan
Mengatakan “mama” dan “dada”, mengerti kata ‘tidak’, mengerti sikap tubuh seperti melambaikan tangan
Menunjukkan ingatannya akan kejadian yang baru berlalu, ingat letak mainannya ketika tertutupi
Berhenti menangis ketika bertemu bunda, menunjukkan kegelisahan akibat perpisahan
Yang Disukai Bayi
Bermain dengan wadah-wadahan: mencampur, mengisi, menimbun. Merogoh isi kantong ayah, mengamati diri sendiri di depan cermin, membanting dan mencocokkan tutup dengan wadah, menumpuk dua atau tiga balok
Waspada Bila
* Belum bisa merangkak
* Belum bisa tengkurap
* Tidak dapat mengambil barang yang berada di depannya
* Belum bisa mengucapkan sepatah kata
* Belum bisa menirukan gerakan tubuh, tidak bisa melambaikan tangan atau menggelengkan kepala
* Belum bisa menunjuk barang atau gambar

12-15 bulan
Tahap Perkembangan
Berjalan
Menggunakan peralatan seperti sikat gigi dan sisir, memegang botol, lebih gampang dipakaikan baju
Mengucapkan 4-6 kata yang dapat dimengerti, mengenali nama dan menunjuk ke orang yang ia kenal, tertawa saat melihat gambar lucu
Mulai mempelajari cara mencocokkan sesuatu
Yang Disukai Bayi
Mendorong dan menarik mainan ketika berjalan, melempar bola, permainan dengan menyentuh, mengosongkan laci dan mengmbil isinya, menjelajahi bahu ayah, berbicara pada mainan, meniru suara binatang

15-18 bulan
Tahap Perkembangan
Mengerti bahasa sederhana, mengendarai mainan beroda empat, mencoba menendang bola walau sering meleset, membuka laci, menurut ketika dipakaikan baju, mengonsumsi makanan berkuah
Mengatakan 10-20 kata yang bisa dimengerti
Mengamati bermacam bentuk, mengenali gambar di buku
Berlari walau kadang-kadang terjatuh
Yang Disukai
Mendorong kereta mainan, mengetukkan palu karet mainan, melakukan permainan bagian-tubuh “mana Hidung”, menari seirama dengan musik, memutar dan menekan kenop, bermain cilukba dan berkejaran
Waspada Bila
* Belum bisa berkata setidaknya 15 kata

18-24 bulan
Tahap Perkembangan
Lancar berjalan dan berlari, bisa memanjat keluar dari ranjangnya, membuka pintu, menaiki tangga tanpa bantuan
Mengerti bahasa sehari-hari
Membuka bungkusan, mencuci tangan, duduk di kursi tanpa bantuan
Mengatakan 20-25 kata yang bisa dimengerti
Mencari tahu segala sesuatu sebelum melakukannya, menggambar lingkaran, membuat garis, mengerti dua perintah sekaligus
Yang Disukai
Menarik kereta mainan, membantu di dalam rumah, berjungkir balik, berdiri di atas pijakan, menggunakan rak, meja, dan kursinya sendiri untuk bermain, “membaca” buku bergambar sambil membalik-balik halaman
Waspada Bila
* Belum bisa berjalan
* Setelah bisa berjalan, berjalannya abnormal
* Belum bisa merangkai kalimat dari dua kata
* Belum tahu fungsi alat-alat yang sering dipakai di rumah seperti telepon, sendok, gelas.
* Belum mampu menirukan gerakan tubuh atau kata
* Belum bisa menggerakkan mainan beroda.

3 tahun
Tahap Perkembangan
Berdiri dengan satu kaki
Yang Disukai
Senang bermain air
Waspada Bila
* Masih sering terjatuh saat berjalan
* Ucapannya tidak jelas
* Belum bisa menyusun balok
* Belum bisa berkomunikasi
* Belum bisa bermain sebagai ayah/ibu
* Belum bisa memahami perintah sederhana
* Tidak tertarik pada anak lain
* Susah berpisah dengan ibu.

4 tahun
Tahap Perkembangan
Berlari, melompat, memanjat, naik sepeda roda tiga
Yang disukai
Menanyakan sederet pertanyaan setiap hari
Waspada Bila
* Belum bisa melempar bola
* Belum bisa melompat
* Belum bisa naik sepeda roda tiga
* Masih menangis bila ditinggal pergi orang tuanya
* Tidak suka permainan interaktif
* Tidak acuh pada anak lain

5 tahun
Tahap Perkembangan
Melompat dengan satu kaki, memanjat, bermain sepatu roda, bermain sepeda
Yang Disukai
Belajar berbahasa lebih baik, bahkan juga bahasa asing
Waspada Bila
* Sangat penakut
* Berprilaku agresif
* Sulit berpisah dari orang tuanya
* Tidak mampu berkonsentrasi lebih dari 5 menit
* Tidak tertarik pada anak lain
* Merespon orang di sekitarnya dengan datar.

Sumber : http://www.infobunda.com/

Sabtu, 12 September 2009

7 Siasat Bersahabat dengan Si Kecil

KOMPAS.com - Ada sebagian orangtua yang merasa selalu benar dan tak bisa dibantah. Dengan begitu, si kecil sulit merasa dekat dan mau mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Namun, ternyata bisa, kok, bersahabat dengan buah hati. Asal, tahu triknya.

1. Ungkapkan Rasa Cinta
Suka atau tidak, bagi yang hidup di kota besar, Anda hidup di tengah masyarakat yang penuh tuntutan. Salah satunya, Anda harus bekerja atau berkarier. Terkadang anak merasa, ia harus melakukan sesuatu agar selalu dicintai.

Anak lalu sulit membedakan siapa dirinya dan apa yang harus ia lakukan. Sayangnya, Anda terlalu sering menambahkan keragu-raguannya ini dengan memberi pujian kepadanya jika ia berhasil memenangkan suatu pertandingan.

Ini memang tak salah, tapi juga harus seimbang dengan menghargai nilai dirinya tanpa syarat.
Salah satunya, cukup katakan kepada anak, “Kamu tahu tidak, di antara kita sering ada perbedaan pendapata. Tapi terlepas dari itu semua, kamu adalah satu-satunya milik Mama yang paling berharga. Kamu tak perlu bilang apa-apa, Mama hanya ingin kamu tahu.”

Rahasia agar pernyataan ini melekat di hati anak adalah segera alihkan pembicaraan, misalnya, “Oya, kamu lihat novel yang tadi Mama baca, yang sampulnya berwarna merah tua?” lalu tinggalkan ruangan, atau buat anak merasa nyaman untuk tidak merespons atas apa yang sudah Anda katakan.

2. Beri Kesempatan Memilih
Jika mungkin, biarkan anak melatih keterampilan dalam mengambil keputusan, dengan memberi beberapa pilihan. Cara ini bisa membantu, terutama bagi anak-anak yang punya kesulitan dalam menyelesaikan tugas.

Anak-anak akan lebih mudah memulai dan menyelesaikan tugas jika ia yang memilih. Misalnya, berikan anak 5 kartu, di setiap kartu tuliskan tugas yang harus dikerjakan.

Katakan kepadanya, jika ia mulai menyelesaikan tugas yang tertulis dalam 10 menit, cukup hanya 3 tugas yang perlu diselesaikannya, 2 kartu lainnya dikembalikan. Pendekatan ini tak hanya menghilangkan perselisihan, tapi juga memberikan pandangan kepada anak, ini merupakan cara yang cukup adil dan masuk akal.

3. Beri Tanggung Jawab
Jika memiliki anak yang kritis pada cara Anda melakukan berbagai hal, berikan kesempatan kepadanya untuk melakukannya. Berikan sejumlah panduan dan fasilitas.
Tak berarti kegiatan yang dipilihnya akan dinikmati semua anggota keluarga, tapi cara ini bisa menghilangkan keluhan yang biasa ia lontarkan. Pastikan anak tahu, Anda mengharga usahanya.

Cara lain mengajari anak bertanggung jawab adalah dengan menyediakan papan pesan. Tuliskan hal-hal penting, seperti janji ke dokter atau les piano. Setiap anggota keluarga diharapkan membaca pesan ini dan setiap hari bertanggung jawab terhadap pesan yang tertera.
Kalimat “Saya tidak tahu!” bukan merupakan alasan. Berikan tugas bagi setiap anggota keluarga untuk menuliskan pesan selama seminggu secara bergantian. Strategi ini juga memastikan anak bertanggung jawab untuk tidak lupa. Sekali lagi, jangan lupa menghargai usahanya.

4. Buat Tugas Semenarik Mungkin
Tak ada aturan yang mengatakan, tugas rumah tangga harus menyebalkan dan tak ada habis-habisnya. Namun, memang merupakan kenyataan, konflik sering terjadi antara anggota keluarga ada di sekitar masalah tugas rumah tangga (termasuk PR). Jika anak bisa menetapkan waktunya untuk melakukan tugas rumah tangga dan menyelesaikannya, jangan lupa berikan hadiah.

Hadiah bisa berupa uang saku lebih atau diizinkan untuk tidur lebih malam dari biasanya. Cara ini tak hanya membuat tugas rumah tangga diselesaikannya, tapi juga dilakukannya dengan senang hati.

5. Tak Perlu Bersikap Jaim (Jaga Imej)
Nikmati peran sebagai orangtua. Waktu sangat cepat berlalu. Jika terlalu kaku, Anda akan menyesalinya. Miliki rasa humor. Spontanitas merupakan sumber luar biasa untuk bersenang-senang, dan jika dilakukan dengan keyakinan yang baik, pasti bisa memperbaiki hubungan.
Rbutan makanan dan main perang-perangan memang berantakan, tapi bila dipadati dengan kegembiraan dan susai bercanda dan bermain, dengan senang hati semuanya pasti akan ikut merapikannya.

Biarkan anak tahu, orangtuanya tidak sempurna. Dukung anak untuk berterus terang jika Anda melakukan atau mengatakan sesuatu yang mengganggu atau menyakiti hatinya.
Jika Anda salah, mintalah maaf. Tunjukkan kepada anak, setiap orang bisa melakukan kesalahan, dan orang yang bertanggung jawab dan mencoba memperbaiki kekeliruannya adalah orang yang berjiwa besar untuk mau berterus terang dan meminta maaf.

6. Beri Teguran Provokatif
Terkadang Anda memang harus bisa bertindak lebih keras. Jika Anak setiap pagi bertugas membuang sampah tapi sering tak dilakukan, ada baiknya Anda memberi teguran lebih keras.
Misalnya, “Riza, Mama harap kamu tidak lupa membuang sampah pagi ini. Kalau kamu tidak melakukannya, malam ini Mama perlu membahasnya denganmu.” Jika si kecil tidak ingin membahasnya, pasti ia akan langsung bergerak dan membuang sampah.

7. Hargai Perbaikan dan Kemajuan
Anak terkadang merasa, jika ia melakukan hal dengan benar, tak ada yang memerhatikannya. Maka, tunjukkan Anda memerhatikannya. Hargai usaha anak, ungkapkan penghargaan dan interpretasikan pendapat Anda terhadap arti perbaikan dan kemajuan.
Misalnya, “Adit, minggu lalu kan Mama tak perlu mengingatkan bikin PR, tapi kamu mengerjakannya dengan baik. Mama senang sekali, kamu sudah lebih bertanggung jawab dan melakukan tugas dengan baik.” (Aline/NOVA)

sumber : www.kompas.com

Orangtua Berperan Aktifkan DNA Anak

JAKARTA, KOMPAS.com - Pepatah you are what you think, ternyata tak sekedar kata-kata indah. Setiap orang adalah apa yang mereka pikirkan. Berpikir positif tentang diri sendiri, maka akan memberikan efek positif pula bagi diri. Orang dewasa, mungkin bisa menumbuhkan dan menerapkan positive thinking secara sadar. Bagaimana dengan anak-anak? Berpikir positif, salah satunya dengan mengaktifkan gen/DNA, ternyata juga bisa dijadikan mindset dan sikap mental anak sejak dini. Apa saja peran orangtua?

Psikolog Miriati, Psi, mengatakan, orangtua berperan dalam membuka gen anak. Gen yang terbuka atau aktif akan memicu pikiran positif dan mampu mengembangkan potensi si anak.

"Selama ini orangtua selalu mengambil tugas yang sebenarnya bisa dilakukan oleh si anak. Orangtua bisa membuka gen tanggung jawab, gen pengambilan keputusan si anak dengan cara memberikan kesempatan ke si anak untuk melakukan sesuatu secara mandiri," ungkap Miriati, pada diskusi Mengoptimalkan Potensi Diri Melalui DNA/Gen , Kamis (10/9), di MP Book Point, Jakarta Selatan.

Ia mencontohkan, seorang anak berumur tiga tahun bisa diberikan kepercayaan untuk melakukan hal-hal yang selama ini dilakukan orangtuanya. "Misalnya, mengoles roti. Anak umur tiga tahun sudah bisa lho, mengoles roti untuk sarapannya sendiri. Kalau dia bisa, kenapa harus disediakan ibu? Beri kepercayaan bahwa dia bisa melakukannya, sehingga dia juga berpikir positif terhadap dirinya, dia bisa!," jelas Miriati.

Selain itu, anak juga harus diberikan ruang seluas-luasnya bagi pengembangan kreativitas dirinya. Terkadang, keinginan anak tak sesuai dengan harapan orangtua. Untuk mencegah si anak berkonflik dengan orangtua, menurut Miriatu, orangtua harus memberikan respon awal secara positif. Dalam arti, menempatkan diri sebagai sosok yang satu pikiran dengan si anak.

"Mungkin bapak atau ibu tidak suka dengan pilihan anak. Tapi jangan padamkan gennya. Beri apresiasi positif, biarkan dia membuka gennya dengan bercerita apa keinginannya. Tumbuhkan kepercayaan bahwa orangtua adalah tempat berdiskusi yang tepat baginya," kata Miriati.

Sebab, jika anak tak memercayai orangtua, dikhawatirkan dia justru mencari tempat di luar rumah yang bisa menerima dan sepaham dengannya. "Ajak diskusi pelan-pelan, berbicara tentang risiko-risiko pilihannya. Ikuti emosi anak, dealing with his pain. Setelah tenang, baru bisa diarahkan dan dibukakan pilihan-pilihan lain," ujarnya.

Jika hal-hal diatas diterapkan menjadi sebuah kebiasaan, ia percaya bahwa anak akan memiliki pertahanan diri (self esteem) yang baik dan akan menumbuhkan kepercayaan diri (confidence) pada diri anak.

Belajar Dari Pola Pengasuhan Anak di Jepang

Belajar Dari Pola Pengasuhan Anak di Jepang



Di sebuah shopping arcade di pusat kota Kyoto, saat sedang menikmati segelas cappucino sambil mengamati orang berbelanja, tiba-tiba saya dikejutkan suara keras tangisan anak kecil. Rupanya ada gadis kecil berumur 4 tahunan tersandung dan jatuh. Lututnya berdarah. Kami heran ketika melihat respons ibunya yang hanya berdiri sambil mengulurkan tangan ke arah gadis kecilnya tanpa ada kemauan untuk segera meraih anaknya. Cukup lama. Beberapa menit adegan ini berlangsung. Si ibu tetap sabar dan keras hati untuk menunggu anaknya menyelesaikan sendiri rasa shock dan sakitnya. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya si gadis kecil mulai berusaha berdiri lagi, dan dengan bantuan kecil tangan ibunya dia kembali berdiri. Masih sambil terisak-isak ia pun berjalan lagi.

Dalam benak saya waktu itu, kok tak punya hati ibu si gadis kecil ini? Tega membiarkan anaknya dalam kondisi kesakitan. Ingatan langsung terbang ke Indonesia. Jika kejadian yang sama terjadi di Kota Jakarta ataupun Yogyakarta, saya yakin si ibu pasti akan langsung meraih dan menggendong untuk menenangkan anaknya.

Dari adegan itu, bisa kita bayangkan perbedaan cara pengasuhan anak Jepang dan anak Indonesia. Dari pengamatan saya selama hampir setahun tinggal di Jepang, anak Jepang cenderung dibiasakan dari kecil untuk mengatasi berbagai kesulitan sendiri, sementara anak Indonesia selalu disediakan asisten untuk mengatasi kesulitannya. Babysitter atau pembantu rumah tangga pun tidak ada dalam kebiasaan keluarga-keluarga di Jepang. Sebaliknya di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan lain-lain kehadiran mereka wajib ada sebagai asisten keluarga maupun sebagai asisten anak-anaknya.

Dalam sebuah studi perbandingan yang dilakukan oleh Heine, Takata dan Lehman pada tahun 2000 yang melibatkan responden dari mahasiswa Jepang dan mahasiswa Kanada dinyatakan bahwa mahasiswa Jepang lebih tidak peduli dengan inteligensi dibandingkan orang Kanada. Hal ini disebabkan orang Jepang lebih menghargai prestasi didasarkan pada usaha keras daripada berdasarkan kemampuan inteligensi. Artinya, bagi orang Jepang kemauan untuk menderita dan berusaha keras menjadi nilai yang lebih penting daripada kemampuan dasar manusia seperti inteligensi.

Dalam keseharian dengan mudah kita dapat menyaksikan mereka selalu berjalan dalam ketergesaan karena takut kehilangan banyak waktu, disiplin dan selalu bekerja keras. Suasana kompetitif dan kemauan untuk menjadi yang lebih baik (yang terbaik) sangat menonjol. Studi ini juga menemukan bahwa orang Jepang memiliki budaya kritik diri yang tinggi, mereka selalu mencari apa yang masih kurang di dalam dirinya. Untuk kemudian mereka akan segera memperbaiki diri.

Lain lagi Indonesia, yang saat ini terjebak dalam kesalahan umum di mana hasil akhir menjadi segala-galanya. Hasil akhir lebih dihargai dibandingkan usaha keras. Tengok saja kompetisi yang terjadi dari anak usia sekolah tingkat SD hingga perguruan tinggi untuk mendapatkan nilai kelulusan yang tinggi. Guru, orang tua maupun masyarakat umum selalu menekan anak untuk mendapatkan nilai kelulusan yang tinggi, sehingga mereka pun menghalalkan segala cara. Kita baca di koran polisi menangkap para guru karena berlaku curang dalam ujian nasional, sementara di tempat lain orang tua membeli soal ujian, siswa menyontek dan lain sebagainya.

Pola pengasuhan ini, pada gilirannya pasti berperan besar dalam pembentukan karakter anak dalam perkembangan berikutnya. Oleh karenanya, memberi kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk mengembangkan semua potensinya adalah satu prinsip dasar dari satu pola pengasuhan yang sangat baik bagi pembentukan karakter anak. Orang tua, asisten, atau pun orang yang lebih dewasa jangan mengambil alih tanggung jawab anak.

Sebagai contoh, beri kesempatan pada anak untuk belajar makan secara benar dengan tangannya sendiri sejak dia mampu memegang sendok. Jangan diambil alih hanya karena alasan akan membuat kotor. Atau beri kesempatan pada anak untuk menghadapi dunia sekolah pertama kali tanpa banyak intervensi dari pengasuh maupun orang tua. Memberi rasa aman pada anak memang penting jika diberikan pada saat yang tepat. Tetapi menunggui anak selama dia belajar di sekolah adalah pemberian rasa aman yang tidak perlu. Momen ini adalah momen penting bagi anak untuk belajar menghadapi dunia di luar rumah tanpa bantuan langsung orang-orang di sekitarnya.

Pengalaman anak merasa mampu menghadapi persoalan dengan kemampuannya sendiri akan menumbuhkan kepercayaan diri. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya membatasi diri hanya menjadi partner diskusi yang membantu anak menemukan berbagai kemungkinan solusi. Orang tua kadang harus berteguh hati membiarkan anak mengalami rasa sakit, menderita, dan rasa tertekan dalam isi dan porsi yang tepat, karena hal itu akan sangat baik untuk perkembangan mental anak.

Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan hidup dan tidak mudah menyerah. Hargai anak bukan dari hasil akhirnya melainkan dari proses perjuangannya. Anak perlu diberi pembelajaran (dan juga orang tua perlu belajar) untuk bisa menikmati dan menghargai proses, meskipun proses seringkali tidak nyaman.

Dr. Christina Siwi Handayani, Staf Pengajar Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Sumber. www.kompas.com