Sabtu, 12 September 2009

Orangtua Berperan Aktifkan DNA Anak

JAKARTA, KOMPAS.com - Pepatah you are what you think, ternyata tak sekedar kata-kata indah. Setiap orang adalah apa yang mereka pikirkan. Berpikir positif tentang diri sendiri, maka akan memberikan efek positif pula bagi diri. Orang dewasa, mungkin bisa menumbuhkan dan menerapkan positive thinking secara sadar. Bagaimana dengan anak-anak? Berpikir positif, salah satunya dengan mengaktifkan gen/DNA, ternyata juga bisa dijadikan mindset dan sikap mental anak sejak dini. Apa saja peran orangtua?

Psikolog Miriati, Psi, mengatakan, orangtua berperan dalam membuka gen anak. Gen yang terbuka atau aktif akan memicu pikiran positif dan mampu mengembangkan potensi si anak.

"Selama ini orangtua selalu mengambil tugas yang sebenarnya bisa dilakukan oleh si anak. Orangtua bisa membuka gen tanggung jawab, gen pengambilan keputusan si anak dengan cara memberikan kesempatan ke si anak untuk melakukan sesuatu secara mandiri," ungkap Miriati, pada diskusi Mengoptimalkan Potensi Diri Melalui DNA/Gen , Kamis (10/9), di MP Book Point, Jakarta Selatan.

Ia mencontohkan, seorang anak berumur tiga tahun bisa diberikan kepercayaan untuk melakukan hal-hal yang selama ini dilakukan orangtuanya. "Misalnya, mengoles roti. Anak umur tiga tahun sudah bisa lho, mengoles roti untuk sarapannya sendiri. Kalau dia bisa, kenapa harus disediakan ibu? Beri kepercayaan bahwa dia bisa melakukannya, sehingga dia juga berpikir positif terhadap dirinya, dia bisa!," jelas Miriati.

Selain itu, anak juga harus diberikan ruang seluas-luasnya bagi pengembangan kreativitas dirinya. Terkadang, keinginan anak tak sesuai dengan harapan orangtua. Untuk mencegah si anak berkonflik dengan orangtua, menurut Miriatu, orangtua harus memberikan respon awal secara positif. Dalam arti, menempatkan diri sebagai sosok yang satu pikiran dengan si anak.

"Mungkin bapak atau ibu tidak suka dengan pilihan anak. Tapi jangan padamkan gennya. Beri apresiasi positif, biarkan dia membuka gennya dengan bercerita apa keinginannya. Tumbuhkan kepercayaan bahwa orangtua adalah tempat berdiskusi yang tepat baginya," kata Miriati.

Sebab, jika anak tak memercayai orangtua, dikhawatirkan dia justru mencari tempat di luar rumah yang bisa menerima dan sepaham dengannya. "Ajak diskusi pelan-pelan, berbicara tentang risiko-risiko pilihannya. Ikuti emosi anak, dealing with his pain. Setelah tenang, baru bisa diarahkan dan dibukakan pilihan-pilihan lain," ujarnya.

Jika hal-hal diatas diterapkan menjadi sebuah kebiasaan, ia percaya bahwa anak akan memiliki pertahanan diri (self esteem) yang baik dan akan menumbuhkan kepercayaan diri (confidence) pada diri anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar